Rabu, 28 April 2010

My Fave Story



Ini sebuah cerita…
Tentang seorang gadis bernama Lizzy, dan keluarga yang ‘ajaib’polahnya, kecuali kakak perempuannya.
Lizzy menyetujui kekasih pilihan kakaknya, tapi tidak tahan dengan arogansi sahabat sang kekasih.
Dilamar oleh lelaki terakhir di dunia yang ia inginkan (kok bisa? Ya pasti ditolak! ^_^), malahan sahabatnya menikah dengan lelaki itu (alasan si sahabat : ga mau kelamaan single ???)
Kedekatan Lizzy dengan si Tampan tetangga baru berakhir karena si Tampan meninggalkannya demi perempuan yang status sosialnya lebih baik. Sakit hati Lizzy hanya sesaat, toh mereka dekat hanya karena tidak suka pada orang yang sama, si Arogan.
Bayangkan kagetnya Lizzy waktu si Arogan menyatakan cinta, dengan cara yang tidak menyenangkan pula :(
Lebih kaget lagi, setelah menumpahkan seluruh rasa kesalnya akan tingkah laku si Arogan, ternyata apa yang ia dengar hanya cerita satu sisi saja.
Setelah mengenalnya lebih baik (dan nilai kekayaannya ^_^), Lizzy mulai menyukai si Arogan. Kemudian jatuh cinta padanya, ketika si Arogan diam2 menolong keluarganya keluar dari krisis.
Tentunya Lizzy harus menjelaskan kepada kerabat dan teman2nya, mengapa ia tidak lagi membenci si Arogan.

Buku dengan tema sejenis ini mudah ditemukan di toko buku, di kategori chick-lit.
Tapi tau ga buku pertama yang mengangkat tema ini?
You’ve got it, Pride and Prejudice by Jane Austen
Buku ini disebut dalam banyak film, diantaranya You've Got Mail dan Bridget Jones Diary: the Edge of Reason versi DVD. Juga menginspirasi banyak author, contoh yang paling terkenal tentu saja Bridget Jones Diary.
Percaya ga percaya, cerita ini ditulis tahun 1813!
Dan tetap relevan karena tidak banyak yang berubah dari nature hubungan lelaki-perempuan, bahkan setelah 200 tahun.


Download Pride and Prejudice Now:

Selasa, 27 April 2010

Historical Romance Pertamaku...



Pride and Prejudice

Perkenalanku dengan Jane Austen terjadi di usia 16 tahun, ketika aku tidak menemukan buku yang menarik minatku di bagian fiksi Perpustakaan Umum Propinsi Kalsel. Kunjungan yang intens selama lebih dari 4 tahun tidak lagi menyisakan buku fiksi yang belum terbaca. Keadaan itu memaksaku melirik rak buku di sampingnya, buku sastra Inggris dalam bahasa aslinya, in English!

Entah karena curiosity, atau tidak ada pilihan lain :D, sejak itu aku ngetem di rak buku sastra. Meskipun vocabulary lebih ekstensif dan alurnya kompleks, satu per satu buku itu terbaca juga (salah satunya The Sun also Rises :D). Dari parade karya Jane Austen, Pride and Prejudice (yang ditulis pada tahun 1813!) adalah buku pertama yang kubawa pulang. Dan tidak salah pilih!

Paragraf pertamanya so funny, bagaimana tidak, coba simak…
It is a truth universally acknowledged, that a single man in possession of a good fortune, must be in want of a wife.
However little known the feelings or views of such a man may be on his fi rst entering a neighbourhood, this truth is so well fixed in the minds of the surrounding families, that he is considered the rightful property of someone or other of their daughters.


The entire book is witty and funny. Kejeniusan Austen terlihat dari plot yang tidak mudah ditebak. Di permulaan kita mengira Darcy adalah sosok yang menyebalkan, angkuh, dan snob (meskipun tall, dark, handsome, good pedigree... sigh). Wajar jika kita sepakat dengan dengan Elizabeth, sang heroine, dan sang mama, Mrs. Bennet, bahwa Bingley, sahabat Darcy, lebih mempesona (meskipun penghasilannya hanya 5 ribu pound per tahun, bandingkan dengan Darcy yang 10 ribu pound per tahun!)

Semakin lama semakin kita temukan kesalahan, bahkan kejahatan, Darcy. Penggelapan harta warisan, penghalang kisah cinta Wickam dan Georgina (adik Darcy), serta menghalangi kisah cinta Bingley dan Jenny (kakak Elizabeth). Hal tersebut membuat Elizabeth menolak lamaran Darcy. Walaupun kita tahu, Darcy sangat mengagumi Elizabeth dan her ‘fine eyes’ (kalo kualitas fine eyes yang menarik hati Darcy, aku g punya… hiks hiks… Mr. Darcy, you’ve broke my heart…).

Tiba-tiba, fakta terkuak. Wickam bukan Mr.Right. Sebagai putra dari mantan manager Pemberley (estate milik Darcy), Wickam menuduh Darcy tidak memberikan warisan yang dijanjikan ayah Darcy, karenanya ia membujuk Georgina untuk kawin lari dengan maksud menguasai warisan Georgina. Karakter buruk Wickam makin terlihat ketika ia membujuk Lydia, adik Elizabeth, untuk kawin lari.

Hingga hari ini Pride dan Prejudice masih menjadi cerita favoritku, dibanding karya Jane Austen yang lain seperti Emma, Sense and Sensibility, Northanger Abbey, Mansfield Park, Lady Susan. Bukannya tidak menarik, Northanger Abbey adalah kisah unik bertema Gothik, sang heroine Catherine menyatakan lebih dulu rasa cintanya kepada sang hero, konsep yang sangat advanced di abad ke-19 (the truth is, situasi belum berubah banyak di abad ke-21 ^_^, aku tidak sepede Catherine… wkwkwk). Lady Susan juga tidak kalah uniknya, komedi tentang para lelaki yang terpesona pada seorang janda cantik. Tetapi chemistry-nya tidak nyambung dengaku. Kecewa sih waktu Hollywood membuat film Sense and Sensibility (1995, starring Emma Thompson, Kate Winslet, dan Hugh Grant), bukankah Pride and Prejudice adalah masterpiece Austen? (maksa ^_^).

Banyak kritikus mengatakan kelemahan karya Jane Austen adalah kurangnya unsur romantis (atau erotis? :D) Hal tersebut dikaitkan dengan situasi Austen yang tidak pernah menikah, sehingga dianggap tidak memahami physical relationship antara laki-laki dan perempuan.

Tidak salah. Tetapi justru di situ kekuatan Pride and Prejudice. Ceritanya bukan semata hubungan romansa Elizabeth dan Darcy. Lebih dari itu, kisah ini adalah gambaran kondisi perempuan di abad ke-19. Hukum tidak memberikan hak waris kepada perempuan, Sekolah keputrian tidak memberikan kemampuan praktis agar perempuan bisa bekerja, hanya mengajarkan hal-hal domestik. Kalaupun memiliki keahlian, reputasinya dianggap tercemar jika berhubungan dengan trading dan industri (dan jika tercemar, tidak ada gentleman yang bersedia menikah dengannya, :(( kejam banget!). Satu-satunya harapan perempuan adalah menikahi lelaki kaya (seperti Darcy :D). Tidak heran Caroline melakukan segala cara untuk memikat Darcy, atau Lady Catherine memaksa Darcy untuk menyetujui perjodohan dengan putrinya, atau Mrs. Bennet mendesak Elizabeth untuk menikah dengan Collins, sepupu jauh sekaligus ahli waris Mr. Bennet. Tidak heran pula jika ada yang mengatakan Pride and Prejudice membosankan, hanya membahas pernikahan dari halaman awal hingga akhir. Tidak heran, karena pernikahan adalah segalanya bagi perempuan di masa Austen, it’s a matter of survive!

Thank God, masa itu sudah jauh berlalu. Kini pernikahan adalah suatu PILIHAN, bagi laki-laki dan perempuan, bukan suatu keharusan. Kesadaran akan perbaikan kondisi perempuan sebenarnya telah dimulai pada era Austen, ditandai oleh penerbitan A Vindication of the Rights of Woman (1792) oleh Mary Wollstonecraft, tetapi belum mendapat encouraging response (sadly…). Evolusi kesadaran hak-hak perempuan dapat ditelusur melalui literature, bermula di Mary Wollstonecraft (yang biasa disebut first-wave of the feminist movement, berlanjut ke Simone de Beauvoir dan karya fenomenalnya The Second Sex (1949), menuju ke third-wave of the feminist movement yang direpresentasikan oleh Naomi Wolf dan karyanya The Beauty Myth: How Images of Beauty Are Used Against Women (1990).

Tidak bisa disangkal, spirit Pride n Prejudice bergema hingga hari ini. Siapa yang tidak kenal Bridget Jones’ Diary (versi buku atau movie)? Bukan kebetulan, tokoh utamanya bernama Darcy ^_^. Shanna Swendson mengatakan Pride and Prejudice adalah pelopor Chicklit, genre literature sejenis Bridget Jones’ Diary.

Moral cerita : (kayak dongeng aja, anggap ini modern happily-ever-after story :D)
Pride and Prejudice bukan Snow White atau Cinderella. Dalam pencarian Mr.Right, orang pertama yang kita jumpai bisa jadi Mr.Wrong(a.k.a Mr.Wickam). Terkadang kita yang menutup mata (dan fakta) sehingga mengabaikan Mr.Right yang tepat di depan kita. Don’t worry, Gals, Bridget Jones memerlukan seluruh halaman buku untuk menemukan Mr. Darcy (a.k.a prince charming) di akhir cerita. Kita hanya perlu membuka mata lebar-lebar (our finest eyes!) dan melirik kiri-kanan ^_^

So, Have you find your Mr. Darcy?
I guess I have :))