Selasa, 29 Juni 2010

a Poem for a Broken Heart

At least once when you're young, you got infatuation, crushed on someone who unfortunately not suitable.

I called it infatuation, crush, not fallen.
I believe love comes once in a lifetime, and it should be shared with the right person.

Love comes when you're mature... when you're ready to embrace it.
Infatuation smooths your way to distinguish the true love you're looking for.
Still, infatuation could hurt you so.


In old days, when my young heart broken and my pride bruised, I often recited this lines...

Setelah beberapa lama
kamu akan mengerti perbedaan tipis
antara menggandeng tangan
dan membelenggu jiwa

Dan kamu akan mengerti
bahwa cinta bukanlah berarti bersandar
dan teman bukan berarti aman

Dan kamu mulai mengerti
bahwa ciuman bukanlah kontrak
dan hadiah bukanlah janji

Dan kamu mulai menerima kekalahanmu
sambil mengangkat kepala dan membuka mata dengan kelapangan seorang dewasa
bukan kesedihan seorang anak

Dan kamu akan belajar
membangun semua jalanmu hari ini
karena tanah hari esok sangat tak pasti
sulit direncanakan

Setelah beberapa lama kamu akan mengerti
bahwa sinar matahari pun akan membakarmu kalau berlebihan

Jadi, tanamilah kebunmu dan hiasilah jiwamu
Jangan menunggu orang lain
membawa bunga untukmu

Dan kamu akan mengerti
bahwa kamu bisa bertahan
Bahwa kamu sebenarnya kuat
Dan kamu sebenarnya berharga

by Veronica A. Shoffstoll



Thank God!
After sometime, I felt better, much better
:)

Minggu, 20 Juni 2010

Hektor of Troy

Kemaren sore, saya pergi ke toko buku Gramedia. Window shopping (?) siapa tau ada sale… Ternyata tidak ada, malahan harga buku pada naik semua. Mungkin antisipasi kenaikan TDL… wkwkwk.
Akhirnya cuman jalan-jalan, liat-liat buku dari rak depan sampe belakang. Entah kenapa, saya selalu bertemu buku dengan tema serupa.

Di rak dekat pintu depan, ada buku lama, kartun Age of Bronze yang ditawarkan diskon 20% (tetap aja mahal :D). Age of Bronze adalah era ketiga di Masa Yunani Purba, setelah era para dewa. Pengaruh para Dewa, sangat kuat mendominasi kehidupan manusia. Peristiwa terkenal di era ini adalah perang Troya.

Masuk ke bagian buku baru, ada buku yang berjudul Troy. Baru membaca sinopsis di sampul belakang, saya sudah sakit kepala. Jika Si Penulis memahami Perang Troya sebagai perebutan wanita, sebaiknya buku ini tidak perlu dibaca!

Lanjut lagi ke bagian novel, lagi-lagi saya bertemu dengan Kisah para Dewa Olympus, serta campur tangan mereka dalam Perang Troya. Heran kan?

Kejadian ini membawa saya mengingat buku yang pernah saya baca di masa kecil, berjudul Tujuh Penakluk Dunia. Ada Alexander, Cyrus, Jengis Khan, yang pastinya adalah penakluk. Cerita terakhir yang tidak konsisten dengan judulnya, adalah cerita tentang Paris dan Perang Troya (mungkin Paris juga the conquerer ya?)

Konon, dewi Eris marah karena tidak diundang ke perjamuan pernikahan Peleus dan Thetis. Karenanya ia mengirimkan apel emas dengan tulisan, untuk dewi yang paling cantik. Hera, Athena, dan Afrodite yang hadir pada perjamuan mengklaim diri mereka yang berhak menerima apel emas tersebut. Untuk itu, dipanggilah Paris, putra raja Troya untuk memberikan putusan.

Hera menawarkan kekayaan, Athena menawarkan kejayaan, dan Afodite menawarkan perempuan tercantik, sebagai hadiah kepada Paris. Kayaknya ini gratifikasi tertua dalam sejarah wkwkwkw.


Judgement of Paris
(Capitoline Museums, Roma)


Paris memberikan apel emas kepada Afrodite, yang membawanya dalam daftar persona non grata Hera dan Athena. Bukan hanya Paris, tetapi seluruh warga Troya. Don’t blame the messenger, Gals. Salahkan Eris yang hanya mengirim 1 buah apel… xixixi

Setelah kejadian itu, Paris yang menjadi ambassador di Kerjaan Sparta bertemu dengan Helen, istri Menelaeus, Raja Sparta. Mereka saling jatuh cinta dan bersepakat untuk lari ke Troya.

Kalo kita bisa bersimpati pada Siti Nurbaya yang dikawin paksa oleh Datuk Maringgih, berikan juga itu pada Helen. Putri raja yang harus menuruti keinginan ayahnya untuk menikah dengan raja Sparta demi kepentingan politik. Kesempatan memilih sendiri pasangan hidup memang luxury yang tidak selalu dimiliki perempuan.

Menelaeus marah dan memanggil raja-raja di Yunani untuk bersiap menyerang Troya. Sebenarnya sebagian besar raja-raja ini enggan menyerang Troya. Mereka hanya terikat janji pada Meneleus. Oddyseus sampai berpura-pura gila, hanya agar tidak disertakan dalam armada menuju Troya.

Singkat cerita, setelah 10 tahun mengepung Troya, benteng kota itu tetap tidak dapat ditembus. Para Heroes berguguran di kurusetra, Patroklus, Ajax, Hektor, Akhilles, juga Paris. Perang tidak menunjukkan tanda akan berakhir. Prajurit Yunani sudah bosan dan rindu rumah.

Oddysesus pun merancang muslihat. Membangun kuda kayu sebesar kapal. Menyembunyikan prajurit Yunani di dalamnya dan memberikannya kepada Troya sebagai hadiah, pertanda prajurit Yunani telah menyerah.

Licik. Dan sukses. Warga Troya menghela kuda kayu itu ke dalam benteng mereka, berpesta merayakan kemenangan, dan tak berdaya menghadapi serangan tiba-tiba prajurit yang berhamburan keluar dari perut kuda. Troya jatuh. Seluruh laki-laki dibunuh. Anak-anak dan perempuan dijadikan budak. Hanya Aeneas, putranya, serta ayahnya yang selamat dengan bantuan Afrodite. Aeneas membangun kerjaan baru di Latium. Tapi itu cerita yang berbeda.

Ringkasan dari epos Iliiad dan Oddysey yang benar-benar ringkas… ^_^
Namanya juga buku untuk anak-anak.

Yang mengherankan saya, dari dulu hingga sekarang, adalah pemahaman sebagian besar orang tentang kisah perang Troya. Bahwa Illiad semata kisah cinta Helen dan Paris yang menghancurkan Troya. Sehingga muncullah anggapan-anggapan miring, bahwa perempuan adalah penghancur negara. Logika yang aneh, tidak akan mungkin perempuan menghancurkan negara (apa wewenangnya dalam pemerintahan?), penguasa negara (baca: laki-laki) yang tidak menggunakan akal sehat untuk mensejahterakan rakyat. Ini logika blaming the victim, atau blaming siapa aja?

Kembali ke perang Troya. Ini epos besar. Sebegitu kecilkah penghargaan kita terhadap Homer, sang pujangga Illiad dan Oddysey, sehingga mereduksi karyanya menjadi roman picisan. Semata berpusat pada Helen, ‘the face that launched a thousand ships’. Ini EPOS, bukan romance! Epos adalah kisah kepahlawanan, kisah tentang heroes, heroines, goddes dan goddesses.

Perang Troya adalah fakta nyata yang terjadi di masa purba. Tetapi fakta dan fiksi telah berjalin sedemikian rupa, sehingga sulit dipisahkan. Seberapa real Helen dan Paris, itu masih diperdebatkan. Tapi perang itu sendiri benar terjadi. Kalau bukan Helen dan Paris, apa penyebabnya?


Sisa benteng kota Troya
(1200 SM)


Keserakahan dan ambisi manusia. Ambisi Yunani untuk menguasai Asia Minor dan seluruh Mediterania. Ambisi yang tidak pernah tercapai, hingga masa Philip dan Alexander. Seandainya pun tragedi Helen tak ada, penyerbuan ke Troya tak terhindarkan.

The Illiad bercerita akan keserakahan manusia. Agamemnon yang mengorbankan putrinya, Iphigenia, di altar dewi Artemis, demi ambisi menjajah Troya. Berkisah tentang ambisi Akhiles, yang rela mati di medan tempur sebelum usia 30, dengan jaminan janji Zeus, bahwa namanya akan abadi sepanjang sejarah. Tetapi yang paling utama dan terutama, epos ini adalah narasi tentang nilai-nilai yang diyakini orang Yunani purba. Nilai patriotisme, loyalitas pada tanah air dan bangsa, serta kerelaan menerima takdir para dewa.

Jika demikian, siapakah Hero dalam Epos Illiad?

Bukan Agamemnon yang serakah. Bukan Akhiles yang suka ngambek dan kekanak-kanakan. Bukan Oddyseus yang cerdik, kisahnya ada di Epos Oddysey. Menurut saya, Hero dalam Illiad adalah Hektor, Putra mahkota dan Panglima Troya.

Hektor yang berjuang membela Negara, benar atau salah bukan masalah ketika nasib Negara dipertaruhkan. Hektor maju ke medan laga, meskipun ia tahu, tipis kesempatan untuk menang. Meskipun ia tahu, takdir sudah menggariskannya gugur di pertempuran.


Pemulangan Jenazah Hektor ke Troy
(sarkofagus Romawi)


Membaca Illiad dalam syair aslinya, menggugah kita akan penghargaan yang diberikan Homer kepada Hektor. Dan penutup epos ini tiada lain prosesi pemakaman Hektor dengan segenap penghormatan kepadanya.

Salute, Hektor!

Jumat, 07 Mei 2010

Saving vs Shopping



Bulan ini rencananya mau menstabilkan kondisi finansial yang gonjang-ganjing pasca married. Bingung juga sih, pada kemana uang yang kita saving. Terlalu banyak pos tidak terduga.Termasuk lapar mata :D. Tapi itulah harga yang harus dibayar atas nama pride, menikah dengan usaha sendiri.

Mungkin buat sebagian orang, menikah adalah hajatan bersama, saweran dari saudara dan kerabat. Biasanya sih begitu. Hanya kami memutuskan untuk tidak menerima bantuan finansial dari pihak mana pun. Terlalu banyak stakes di situ. Setidaknya dengan cara ini independensi pernikahan bisa terjaga, tidak ada intervensi, apalagi intimidasi, dari pihak luar. Bukan tidak menghargai tradisi, hanya berusaha sedapat mungkin mencegah timbulnya friksi antar budaya.

Long distance marriage juga mempersulit pemulihan finansial. Setting up 2 household means 2 expenses… kemudian transportasi udara menjadi biaya rutin. Bulan lalu, ada 2 perjalanan udara, 1 kali mengunjungi orangtua. 1 kali ziarah nenek. My hubby juga. Dengan gaji PNS golongan IIIA, ini sudah over capacity. Jangan dibandingkan dengan Gayus, depdiknas tidak seindah depkeu ^_^

Setelah terima salary bulan Mei, langsung bayar tagihan-tagihan rutin, kontrakan rumah, pulsa telepon, tagihan internet, premi asuransi, dan biaya rutin lain. Selanjutnya bertekad untuk mengalokasikan biaya hidup per minggu. Jadi dalam seminggu cuman 1 kali narik uang dari ATM, tiap rabu atau kamis. Cukup g cukup harus cukup! Dana yang ada cuma segitu :(
So far, sampai ni hari, skema finansial masih oke :D


Dialog keuangan keluarga di TV tadi siang memberikan insight, katanya alokasi pengeluaran yang baik itu nabung minimal 10%, cicilan utang maksimal 30%, sisanya dibagi 2 30:30 untuk pengeluaran rutin dan pengaluaran harian. Nabung harus dilakukan di awal bulan, bukan di akhir bulan, karena pasti g nyisa (betul juga :D). Rekeningnya musti terpisah n g perlu pake ATM, atau ATMnya disimpan aja.
Jadi semangat nabung... mau nanya opini hubby dulu :D


Terus iseng-iseng browsing di internet, dan o-ow… godaan datang…

Gimana skema restrukturisasi finansial bisa sukses melawan situs belanja online?
Baru 5 menit sudah nemu boots lucu! wedges imut! lingerie kyut! etc, etc... daftar yang tiada berujung...








(boots lucu.. so irresistible... sigh)
courtesy of www.belanjasepatu.com

Around Marriage in Eighty Day...



Beberapa bulan silam, tidak terpikir aku bakal menikah, apalagi tiba di hari ke-80, tidak terbayangkan...
Mungkin terlalu nyaman menjalani proses, rasanya antiklimaks ketika tiba di finish. Atau mungkin situasinya, fast, lightning, whirlwind wedding... tidak cukup waktu memikirkan apa pun.
Sebenarnya pun tidak ada perubahan drastis dalam rutinitas harianku. Long distance marriage yang kami jalani hanya memungkinkan pertemuan sesekali. eight days in eighty days, at most.
Keterbiasaan dan pembiasaan... menjalani long distance love for 5 years, seharusnya sudah terbiasa. Tapi terkadang, something amiss...
Good news, waktu-waktu ini adalah buffer, sebelum pindah ke more restricted area :D
God knows, aku terlalu stubborn untuk terjun bebas mengurangi separo independensiku.
Thank God memudahkanku menjalani transisi. and thank to my hubby, tidak memaksaku menanggalkan identitas diri.

but... being the bride is not so bad... I guess... when you find Mr. Rigt ^_^

Kamis, 06 Mei 2010

TBS, Fair Trade, dan Produk Lokal

Tanggal 01 Mei lalu, seorang teman membawa leaflet yang disebarkan oleh sekelompok masyarakat yang berdemonstrasi untuk memperingati May Day. Salah satu pesan yang mereka sampaikan adalah, sebagai konsumen, kita sebaiknya membeli produk perdagangan yang adil (fair trade), dan menggunakan produk lokal.

Anjuran yang sangat bagus, tetapi tidak selalu bisa dilaksanakan. Malah dalam beberapa hal menjadi kontradiktif, setidaknya dalam pengalaman saya sebagai konsumen.

Item yang pasti saya beli setiap bulan adalah kosmetika. Yes, definitely Cosmetics! Bicara kosmetika, tidak selalu berarti lipstick dan eye shadow. Produk toiletries seperti sabun mandi, shampoo, dan pasta gigi adalah bagian dari kosmetika.



Bermula pada pencarian kosmetika yang cocok untuk oily skin. Aneka merk sudah dicoba (yang sesuai budget anak kuliahan tentunya :D) dari kosmetika berbahan dasar alam sejenis Mustika Ratu dan Sari Ayu, hingga brand internasional seperti Unilever. Kemudian my little sister (yang secara genetis memiliki problem kulit serupa :D) menyarankan produk Seaweed dari The Body Shop (TBS, istilah yang dipakai ajang gaul online). Dan saya pun menjadi konsumen produk fair trade.

TBS adalah pionir fair trade di industri kosmetika. Fair trade, atau yang diistilahkan oleh TBS dengan program Community Trade (CT), dimulai dari komunitas pemasok bahan alam. TBS memotong rantai penjualan, membeli langsung dari petani. Petani dibina oleh TBS agar menghasilkan bahan organik yang berkualitas. Kerjasama ini menguntungkan kedua belah pihak, petani dijamin mendapat harga yang wajar, TBS memperoleh bahan yang sesuai dengan spesifikasi yang diperlukan.

TBS membantu pembangunan di lingkungan pemasok tersebut, yang umumnya adalah komunitas marjinal. Membangun sekolah dan menyediakan sarana air bersih adalah bagian dari CT.
TBS juga mendorong penegakan hak asasi manusia. Khususnya hak-hak perempuan dan anak.



tentang Shea butter dalam Vitamin E cream...
Shea butter yang berasal dari Ghana adalah salah satu pelembab alami yang sangat bagus. Wanita Ghana telah menggunakannya selama bertahun-tahun untuk melindungi kulit mereka dari angin kering Sahara. Kami membelinya dari Asosiasi Tungteiya Shea Butter di utara Ghana, sebuah asosiasi yang beranggotakan 400 wanita dari 10 desa. Kami memastikan mereka mendapatkan harga yang pantas untuk semua produk mereka. Melalui kerjasama dengan The Body Shop para wanita tersebut mampu mengubah hidup mereka dengan saluran air dan sumur bersih, menghemat waktu mengambil air, perumahan yang lebih baik, perawatan kesehatan, makanan dan kepercayaan diri. Lebih penting lagi, mereka mampu menyekolahkan anak-anak mereka terutama anak-anak perempuan.


TBS bukan nama asing dalam kepustakaan feminist. Naomi Wolf menyebut nama Anita Roddick, pendiri TBS, dalam bukunya Fire with Fire (terbitan tahun ’93, belinya tahun’99 ^_^). Jurnal Perempuan dan Majalah Femina pernah memuat riwayat kesuksesan Anita Roddick. TBS menjadi ikon produk yang berwawasan lingkungan dan memberdayakan masyarakat lokal. Lembaga pemberdayaan perempuan di Indonesia yang pernah mendapat bantuan dari TBS adalah Suara Ibu Peduli (SIP).

Salah satu concern TBS adalah domestic violence. Dengan cara sederhana, membeli Shea Lip Care Duo, kita turut andil mengurangi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Solidaritas perempuan ternyata tidak selalu dibangkitkan dengan orasi dan demonstrasi. TBS menjembatani sisterhood melintasi jarak dan strata sosial.
There are many ways to be feminist, I guess ^_^

Dengan membeli produk fair trade, kita membayar petani dan pekerja dengan harga yang layak. Konsep yang berbanding berbalik dengan prinsip ekonomi yang kita pelajari di bangku sekolah (Bayangkan jika rokok menggunakan prinsip fair trade, tidak ada lagi petani cengkeh dan buruh pabrik yang merana sementara pemilik pabrik rokok masuk jajaran orang terkaya di Indonesia).

Tentunya produk fair trade memiliki konsekuensi harga, konsumen yang membayar petani dan pekerja. Yang pernah jalan-jalan ke counter TBS tentu tahu kisaran harganya. Jika ada yang bilang ada rupa ada harga, mungkin betul. Mungkin juga tidak. Pengalaman pribadi saya menggunakan produk TBS line make-up ternyata tidak sesuai dengan harapan.

Kembali ke leaflet di paragraf awal, anjuran penggunaan produk fair trade dan produk lokal. Saya katakan kontradiktif karena saya tidak menemukan produk kosmetika yang menganut kedua nilai itu. TBS adalah produk impor. Fair trade ya, local tidak. Produk TBS yang masuk ke Indonesia dimanufaktur di Eropa dan USA. ingredient alami yang digunakan TBS, seumpama alga berasal dari Irlandia, biji kakao dari Ghana, malam lebah dari Kamerun, minyak zaitun dari Italia, minyak kedelai dari Peru, madu dari Zambia.

Kekayaan alam Indonesia sangat beragam, hampir semua bahan community trade yang digunakan TBS tersedia di Indonesia. Keahlian manufacturing kosmetika orang Indonesia juga tidak kalah dengan orang luar. Buktinya kosmetika Indonesia diminati di luar negeri. Tetapi omset kosmetika yang meningkat tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan pekerja pabrik dan petani.

Ketika saya berkunjung ke salah satu produsen kosmetika di Indonesia, dikatakan salah satu kendala yang dihadapi adalah rendahnya kualitas bahan baku dalam negeri, sehingga harus impor. Padahal spice melimpah di Indonesia (sigh…).

Jika kita berandai-andai, ada produsen kosmetika Indonesia yang memiliki visi semacam TBS. Katakan saja kita biasa membeli pasta gigi yang mengandung ekstrak sirih seharga 6 ribu rupiah. Saya yakin sebagian kita tidak keberatan membayar 10 ribu rupiah, jika kelebihan 4 ribu rupiah tersebut digunakan untuk menjamin upah yang layak bagi pekerja pabrik dan harga yang wajar bagi petani sirih.

Jika kita berandai-andai, ada produsen kosmetika di Indonesia yang serupa TBS, saya yakin kita tidak keberatan membeli make-up dengan harga 2 kali lipat untuk membantu perempuan miskin di Indonesia. Toh, harganya tidak akan lebih mahal dari produk TBS.

Jika kita berandai-andai, semua produsen kosmetika di Indonesia menggunakan prinsip fair trade, tidak ada lagi pekerja yang berupah minim. Tidak ada lagi petani sengsara. Akan terbuka lapangan kerja, karena kita tidak lagi mengimpor jahe atau melati.

Jika kita berandai-andai…

Rabu, 28 April 2010

My Fave Story



Ini sebuah cerita…
Tentang seorang gadis bernama Lizzy, dan keluarga yang ‘ajaib’polahnya, kecuali kakak perempuannya.
Lizzy menyetujui kekasih pilihan kakaknya, tapi tidak tahan dengan arogansi sahabat sang kekasih.
Dilamar oleh lelaki terakhir di dunia yang ia inginkan (kok bisa? Ya pasti ditolak! ^_^), malahan sahabatnya menikah dengan lelaki itu (alasan si sahabat : ga mau kelamaan single ???)
Kedekatan Lizzy dengan si Tampan tetangga baru berakhir karena si Tampan meninggalkannya demi perempuan yang status sosialnya lebih baik. Sakit hati Lizzy hanya sesaat, toh mereka dekat hanya karena tidak suka pada orang yang sama, si Arogan.
Bayangkan kagetnya Lizzy waktu si Arogan menyatakan cinta, dengan cara yang tidak menyenangkan pula :(
Lebih kaget lagi, setelah menumpahkan seluruh rasa kesalnya akan tingkah laku si Arogan, ternyata apa yang ia dengar hanya cerita satu sisi saja.
Setelah mengenalnya lebih baik (dan nilai kekayaannya ^_^), Lizzy mulai menyukai si Arogan. Kemudian jatuh cinta padanya, ketika si Arogan diam2 menolong keluarganya keluar dari krisis.
Tentunya Lizzy harus menjelaskan kepada kerabat dan teman2nya, mengapa ia tidak lagi membenci si Arogan.

Buku dengan tema sejenis ini mudah ditemukan di toko buku, di kategori chick-lit.
Tapi tau ga buku pertama yang mengangkat tema ini?
You’ve got it, Pride and Prejudice by Jane Austen
Buku ini disebut dalam banyak film, diantaranya You've Got Mail dan Bridget Jones Diary: the Edge of Reason versi DVD. Juga menginspirasi banyak author, contoh yang paling terkenal tentu saja Bridget Jones Diary.
Percaya ga percaya, cerita ini ditulis tahun 1813!
Dan tetap relevan karena tidak banyak yang berubah dari nature hubungan lelaki-perempuan, bahkan setelah 200 tahun.


Download Pride and Prejudice Now:

Selasa, 27 April 2010

Historical Romance Pertamaku...



Pride and Prejudice

Perkenalanku dengan Jane Austen terjadi di usia 16 tahun, ketika aku tidak menemukan buku yang menarik minatku di bagian fiksi Perpustakaan Umum Propinsi Kalsel. Kunjungan yang intens selama lebih dari 4 tahun tidak lagi menyisakan buku fiksi yang belum terbaca. Keadaan itu memaksaku melirik rak buku di sampingnya, buku sastra Inggris dalam bahasa aslinya, in English!

Entah karena curiosity, atau tidak ada pilihan lain :D, sejak itu aku ngetem di rak buku sastra. Meskipun vocabulary lebih ekstensif dan alurnya kompleks, satu per satu buku itu terbaca juga (salah satunya The Sun also Rises :D). Dari parade karya Jane Austen, Pride and Prejudice (yang ditulis pada tahun 1813!) adalah buku pertama yang kubawa pulang. Dan tidak salah pilih!

Paragraf pertamanya so funny, bagaimana tidak, coba simak…
It is a truth universally acknowledged, that a single man in possession of a good fortune, must be in want of a wife.
However little known the feelings or views of such a man may be on his fi rst entering a neighbourhood, this truth is so well fixed in the minds of the surrounding families, that he is considered the rightful property of someone or other of their daughters.


The entire book is witty and funny. Kejeniusan Austen terlihat dari plot yang tidak mudah ditebak. Di permulaan kita mengira Darcy adalah sosok yang menyebalkan, angkuh, dan snob (meskipun tall, dark, handsome, good pedigree... sigh). Wajar jika kita sepakat dengan dengan Elizabeth, sang heroine, dan sang mama, Mrs. Bennet, bahwa Bingley, sahabat Darcy, lebih mempesona (meskipun penghasilannya hanya 5 ribu pound per tahun, bandingkan dengan Darcy yang 10 ribu pound per tahun!)

Semakin lama semakin kita temukan kesalahan, bahkan kejahatan, Darcy. Penggelapan harta warisan, penghalang kisah cinta Wickam dan Georgina (adik Darcy), serta menghalangi kisah cinta Bingley dan Jenny (kakak Elizabeth). Hal tersebut membuat Elizabeth menolak lamaran Darcy. Walaupun kita tahu, Darcy sangat mengagumi Elizabeth dan her ‘fine eyes’ (kalo kualitas fine eyes yang menarik hati Darcy, aku g punya… hiks hiks… Mr. Darcy, you’ve broke my heart…).

Tiba-tiba, fakta terkuak. Wickam bukan Mr.Right. Sebagai putra dari mantan manager Pemberley (estate milik Darcy), Wickam menuduh Darcy tidak memberikan warisan yang dijanjikan ayah Darcy, karenanya ia membujuk Georgina untuk kawin lari dengan maksud menguasai warisan Georgina. Karakter buruk Wickam makin terlihat ketika ia membujuk Lydia, adik Elizabeth, untuk kawin lari.

Hingga hari ini Pride dan Prejudice masih menjadi cerita favoritku, dibanding karya Jane Austen yang lain seperti Emma, Sense and Sensibility, Northanger Abbey, Mansfield Park, Lady Susan. Bukannya tidak menarik, Northanger Abbey adalah kisah unik bertema Gothik, sang heroine Catherine menyatakan lebih dulu rasa cintanya kepada sang hero, konsep yang sangat advanced di abad ke-19 (the truth is, situasi belum berubah banyak di abad ke-21 ^_^, aku tidak sepede Catherine… wkwkwk). Lady Susan juga tidak kalah uniknya, komedi tentang para lelaki yang terpesona pada seorang janda cantik. Tetapi chemistry-nya tidak nyambung dengaku. Kecewa sih waktu Hollywood membuat film Sense and Sensibility (1995, starring Emma Thompson, Kate Winslet, dan Hugh Grant), bukankah Pride and Prejudice adalah masterpiece Austen? (maksa ^_^).

Banyak kritikus mengatakan kelemahan karya Jane Austen adalah kurangnya unsur romantis (atau erotis? :D) Hal tersebut dikaitkan dengan situasi Austen yang tidak pernah menikah, sehingga dianggap tidak memahami physical relationship antara laki-laki dan perempuan.

Tidak salah. Tetapi justru di situ kekuatan Pride and Prejudice. Ceritanya bukan semata hubungan romansa Elizabeth dan Darcy. Lebih dari itu, kisah ini adalah gambaran kondisi perempuan di abad ke-19. Hukum tidak memberikan hak waris kepada perempuan, Sekolah keputrian tidak memberikan kemampuan praktis agar perempuan bisa bekerja, hanya mengajarkan hal-hal domestik. Kalaupun memiliki keahlian, reputasinya dianggap tercemar jika berhubungan dengan trading dan industri (dan jika tercemar, tidak ada gentleman yang bersedia menikah dengannya, :(( kejam banget!). Satu-satunya harapan perempuan adalah menikahi lelaki kaya (seperti Darcy :D). Tidak heran Caroline melakukan segala cara untuk memikat Darcy, atau Lady Catherine memaksa Darcy untuk menyetujui perjodohan dengan putrinya, atau Mrs. Bennet mendesak Elizabeth untuk menikah dengan Collins, sepupu jauh sekaligus ahli waris Mr. Bennet. Tidak heran pula jika ada yang mengatakan Pride and Prejudice membosankan, hanya membahas pernikahan dari halaman awal hingga akhir. Tidak heran, karena pernikahan adalah segalanya bagi perempuan di masa Austen, it’s a matter of survive!

Thank God, masa itu sudah jauh berlalu. Kini pernikahan adalah suatu PILIHAN, bagi laki-laki dan perempuan, bukan suatu keharusan. Kesadaran akan perbaikan kondisi perempuan sebenarnya telah dimulai pada era Austen, ditandai oleh penerbitan A Vindication of the Rights of Woman (1792) oleh Mary Wollstonecraft, tetapi belum mendapat encouraging response (sadly…). Evolusi kesadaran hak-hak perempuan dapat ditelusur melalui literature, bermula di Mary Wollstonecraft (yang biasa disebut first-wave of the feminist movement, berlanjut ke Simone de Beauvoir dan karya fenomenalnya The Second Sex (1949), menuju ke third-wave of the feminist movement yang direpresentasikan oleh Naomi Wolf dan karyanya The Beauty Myth: How Images of Beauty Are Used Against Women (1990).

Tidak bisa disangkal, spirit Pride n Prejudice bergema hingga hari ini. Siapa yang tidak kenal Bridget Jones’ Diary (versi buku atau movie)? Bukan kebetulan, tokoh utamanya bernama Darcy ^_^. Shanna Swendson mengatakan Pride and Prejudice adalah pelopor Chicklit, genre literature sejenis Bridget Jones’ Diary.

Moral cerita : (kayak dongeng aja, anggap ini modern happily-ever-after story :D)
Pride and Prejudice bukan Snow White atau Cinderella. Dalam pencarian Mr.Right, orang pertama yang kita jumpai bisa jadi Mr.Wrong(a.k.a Mr.Wickam). Terkadang kita yang menutup mata (dan fakta) sehingga mengabaikan Mr.Right yang tepat di depan kita. Don’t worry, Gals, Bridget Jones memerlukan seluruh halaman buku untuk menemukan Mr. Darcy (a.k.a prince charming) di akhir cerita. Kita hanya perlu membuka mata lebar-lebar (our finest eyes!) dan melirik kiri-kanan ^_^

So, Have you find your Mr. Darcy?
I guess I have :))