Minggu, 20 Juni 2010

Hektor of Troy

Kemaren sore, saya pergi ke toko buku Gramedia. Window shopping (?) siapa tau ada sale… Ternyata tidak ada, malahan harga buku pada naik semua. Mungkin antisipasi kenaikan TDL… wkwkwk.
Akhirnya cuman jalan-jalan, liat-liat buku dari rak depan sampe belakang. Entah kenapa, saya selalu bertemu buku dengan tema serupa.

Di rak dekat pintu depan, ada buku lama, kartun Age of Bronze yang ditawarkan diskon 20% (tetap aja mahal :D). Age of Bronze adalah era ketiga di Masa Yunani Purba, setelah era para dewa. Pengaruh para Dewa, sangat kuat mendominasi kehidupan manusia. Peristiwa terkenal di era ini adalah perang Troya.

Masuk ke bagian buku baru, ada buku yang berjudul Troy. Baru membaca sinopsis di sampul belakang, saya sudah sakit kepala. Jika Si Penulis memahami Perang Troya sebagai perebutan wanita, sebaiknya buku ini tidak perlu dibaca!

Lanjut lagi ke bagian novel, lagi-lagi saya bertemu dengan Kisah para Dewa Olympus, serta campur tangan mereka dalam Perang Troya. Heran kan?

Kejadian ini membawa saya mengingat buku yang pernah saya baca di masa kecil, berjudul Tujuh Penakluk Dunia. Ada Alexander, Cyrus, Jengis Khan, yang pastinya adalah penakluk. Cerita terakhir yang tidak konsisten dengan judulnya, adalah cerita tentang Paris dan Perang Troya (mungkin Paris juga the conquerer ya?)

Konon, dewi Eris marah karena tidak diundang ke perjamuan pernikahan Peleus dan Thetis. Karenanya ia mengirimkan apel emas dengan tulisan, untuk dewi yang paling cantik. Hera, Athena, dan Afrodite yang hadir pada perjamuan mengklaim diri mereka yang berhak menerima apel emas tersebut. Untuk itu, dipanggilah Paris, putra raja Troya untuk memberikan putusan.

Hera menawarkan kekayaan, Athena menawarkan kejayaan, dan Afodite menawarkan perempuan tercantik, sebagai hadiah kepada Paris. Kayaknya ini gratifikasi tertua dalam sejarah wkwkwkw.


Judgement of Paris
(Capitoline Museums, Roma)


Paris memberikan apel emas kepada Afrodite, yang membawanya dalam daftar persona non grata Hera dan Athena. Bukan hanya Paris, tetapi seluruh warga Troya. Don’t blame the messenger, Gals. Salahkan Eris yang hanya mengirim 1 buah apel… xixixi

Setelah kejadian itu, Paris yang menjadi ambassador di Kerjaan Sparta bertemu dengan Helen, istri Menelaeus, Raja Sparta. Mereka saling jatuh cinta dan bersepakat untuk lari ke Troya.

Kalo kita bisa bersimpati pada Siti Nurbaya yang dikawin paksa oleh Datuk Maringgih, berikan juga itu pada Helen. Putri raja yang harus menuruti keinginan ayahnya untuk menikah dengan raja Sparta demi kepentingan politik. Kesempatan memilih sendiri pasangan hidup memang luxury yang tidak selalu dimiliki perempuan.

Menelaeus marah dan memanggil raja-raja di Yunani untuk bersiap menyerang Troya. Sebenarnya sebagian besar raja-raja ini enggan menyerang Troya. Mereka hanya terikat janji pada Meneleus. Oddyseus sampai berpura-pura gila, hanya agar tidak disertakan dalam armada menuju Troya.

Singkat cerita, setelah 10 tahun mengepung Troya, benteng kota itu tetap tidak dapat ditembus. Para Heroes berguguran di kurusetra, Patroklus, Ajax, Hektor, Akhilles, juga Paris. Perang tidak menunjukkan tanda akan berakhir. Prajurit Yunani sudah bosan dan rindu rumah.

Oddysesus pun merancang muslihat. Membangun kuda kayu sebesar kapal. Menyembunyikan prajurit Yunani di dalamnya dan memberikannya kepada Troya sebagai hadiah, pertanda prajurit Yunani telah menyerah.

Licik. Dan sukses. Warga Troya menghela kuda kayu itu ke dalam benteng mereka, berpesta merayakan kemenangan, dan tak berdaya menghadapi serangan tiba-tiba prajurit yang berhamburan keluar dari perut kuda. Troya jatuh. Seluruh laki-laki dibunuh. Anak-anak dan perempuan dijadikan budak. Hanya Aeneas, putranya, serta ayahnya yang selamat dengan bantuan Afrodite. Aeneas membangun kerjaan baru di Latium. Tapi itu cerita yang berbeda.

Ringkasan dari epos Iliiad dan Oddysey yang benar-benar ringkas… ^_^
Namanya juga buku untuk anak-anak.

Yang mengherankan saya, dari dulu hingga sekarang, adalah pemahaman sebagian besar orang tentang kisah perang Troya. Bahwa Illiad semata kisah cinta Helen dan Paris yang menghancurkan Troya. Sehingga muncullah anggapan-anggapan miring, bahwa perempuan adalah penghancur negara. Logika yang aneh, tidak akan mungkin perempuan menghancurkan negara (apa wewenangnya dalam pemerintahan?), penguasa negara (baca: laki-laki) yang tidak menggunakan akal sehat untuk mensejahterakan rakyat. Ini logika blaming the victim, atau blaming siapa aja?

Kembali ke perang Troya. Ini epos besar. Sebegitu kecilkah penghargaan kita terhadap Homer, sang pujangga Illiad dan Oddysey, sehingga mereduksi karyanya menjadi roman picisan. Semata berpusat pada Helen, ‘the face that launched a thousand ships’. Ini EPOS, bukan romance! Epos adalah kisah kepahlawanan, kisah tentang heroes, heroines, goddes dan goddesses.

Perang Troya adalah fakta nyata yang terjadi di masa purba. Tetapi fakta dan fiksi telah berjalin sedemikian rupa, sehingga sulit dipisahkan. Seberapa real Helen dan Paris, itu masih diperdebatkan. Tapi perang itu sendiri benar terjadi. Kalau bukan Helen dan Paris, apa penyebabnya?


Sisa benteng kota Troya
(1200 SM)


Keserakahan dan ambisi manusia. Ambisi Yunani untuk menguasai Asia Minor dan seluruh Mediterania. Ambisi yang tidak pernah tercapai, hingga masa Philip dan Alexander. Seandainya pun tragedi Helen tak ada, penyerbuan ke Troya tak terhindarkan.

The Illiad bercerita akan keserakahan manusia. Agamemnon yang mengorbankan putrinya, Iphigenia, di altar dewi Artemis, demi ambisi menjajah Troya. Berkisah tentang ambisi Akhiles, yang rela mati di medan tempur sebelum usia 30, dengan jaminan janji Zeus, bahwa namanya akan abadi sepanjang sejarah. Tetapi yang paling utama dan terutama, epos ini adalah narasi tentang nilai-nilai yang diyakini orang Yunani purba. Nilai patriotisme, loyalitas pada tanah air dan bangsa, serta kerelaan menerima takdir para dewa.

Jika demikian, siapakah Hero dalam Epos Illiad?

Bukan Agamemnon yang serakah. Bukan Akhiles yang suka ngambek dan kekanak-kanakan. Bukan Oddyseus yang cerdik, kisahnya ada di Epos Oddysey. Menurut saya, Hero dalam Illiad adalah Hektor, Putra mahkota dan Panglima Troya.

Hektor yang berjuang membela Negara, benar atau salah bukan masalah ketika nasib Negara dipertaruhkan. Hektor maju ke medan laga, meskipun ia tahu, tipis kesempatan untuk menang. Meskipun ia tahu, takdir sudah menggariskannya gugur di pertempuran.


Pemulangan Jenazah Hektor ke Troy
(sarkofagus Romawi)


Membaca Illiad dalam syair aslinya, menggugah kita akan penghargaan yang diberikan Homer kepada Hektor. Dan penutup epos ini tiada lain prosesi pemakaman Hektor dengan segenap penghormatan kepadanya.

Salute, Hektor!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar